Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 05 Januari 2012

MAKALAH
ASKEP TRAKEOSTOMI
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah sistem Respirasi


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.     Latar belakang
Trakeostomi adalah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan pertukaran udara pernapasan. Trakeostomi diindikasikan untuk membebaskan obstruksi jalan napas bagian atas, melindungi trakea serta cabang-cabangnya terhadap aspirasi dan tertimbunnya discharge bronkus, serta pengobatan terhadap penyakit (keadaan) yang mengakibatkan insufisiensi respirasi. Perawatan pasca trakeostomi besar pengaruhnya terhadap kesuksesan tindakan dan tujuan   akhir trakeostomi. Perawatan pasca trakeostomi yang baik meliputi pengisapan discharge, Pemeriksaan periodik kanul dalam, humidifikasi buatan, perawatan luka operasi, pencegahan infeksi sekunder dan jika memakai kanul dengan balon (cuff) yang high volume-low pressure cuff sangat penting agar tidak timbul komplikasi lebih lanjut.
Perawatan kanul trakea di rumah sakit dilakukan oleh paramedis yang terlatih dan mengetahui komplikasi trakeostomi, yang dapat disebabkan oleh alatnya sendiri maupun akibat perubahan anatomis dan fisiologis jalan napas pasca trakeostomi.
Selain itu, pasien juga harus mengetahui bagaimana cara membersihkan dan mengganti kanul trakheostomi, agar pasien dapat secara mandiri menjaga kesehatan tubuhnya, apabila pasien pulang dengan kanul trakhea masih terpasang.
Dalam hal ini peran perawat sangat penting sebagai educator dan role mode dalam perawatan mandiri pasien trakheostomi. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dijelaskan  berbagai macam hal mengenai trakheostomi dan bagaimana asuhan keperawatan pada pasien trakheostomi.
1.2.     Rumusan masalah
1.2.1.    Bagaimana Anatomi dan Fisiologi Trakea?
1.2.2.    Apa definisi tentang  trakeostomi?
1.2.3.    Apa fungsi dari  trakeostomi?
1.2.4.    Apa Indikasi dan Kontraindikasi dilakukannya prosedur trakeostomi?
1.2.5.    Apa saja Klasifikasi dan jenis trakeostomi?
1.2.6.    Bagaimana Penatalaksanaan pemasangan dan perawatan trakeostomi?
1.2.7.    Apa Komplikasi yang timbul dari penggunaan trakeostomi?
1.2.8.    Bagaimana pathway dari trakeostomi?
1.2.9.    Bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien trakeostomi?

1.3.     Tujuan penulisan
1.3.1.    Untuk Mengetahui Anatomi dan Fisiologi Trakea
1.3.2.    Untuk mengetahui definisi tentang  trakeostomi
1.3.3.    Untuk mengetahui fungsi dari trakeostomi
1.3.4.    Untuk mengetahui indikasi dan kontraindikasi dilakukannya prosedur  trakeostomi
1.3.5.    Untuk mengetahui klasifikasi dan jenis trakeostomi
1.3.6.    Untuk mengetahui penatalaksanaan pemasangan dan perawatan trakeostomi
1.3.7.    Untuk mengetahui komplikasi yang timbul dari penggunaan trakeostomi
1.3.8.    Untuk mengetahui pathway dari trakeostomi
1.3.9.    Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien  trakeostomi





1.4.    Metode penulisan
Makalah ini disusun dengan melakukan studi pustaka dari berbagai referensi melalui buku referensi dan internet.

1.5.     Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari makalah ini adalah Bab 1 Pendahuluan, terdiri  dari : latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab 2 Pembahasan, dan Bab 3 Penutup.























BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Anatomi dan Fisiologi Trakea
Trakea merupakan tabung berongga yang disokong oleh cincin kartilago. Panjang trakea pada orang dewasa 10-12 cm. Trakea berawal dari kartilago krikoid yang berbentuk cincin meluas ke anterior pada esofagus, turun ke dalam thoraks di mana ia membelah menjadi dua bronkus utama pada karina. Pembuluh darah besar pada leher berjalan sejajar dengan trakea di sebelah lateral dan terbungkus dalam selubung karotis. Kelenjar tiroid terletak di atas trakea di setelah depan dan lateral. Ismuth melintas trakea di sebelah anterior, biasanya setinggi cincin trakea kedua hingga kelima. Saraf laringeus rekuren terletak pada sulkus trakeoesofagus. Di bawah jaringan subkutan dan menutupi trakea di bagian depan adalah otot-otot supra sternal yang melekat pada kartilago tiroid dan hioid.

2.2. Definisi trakeostomi
Trakeostomi adalah tindakan membuat stoma atau lubang agar udara dapat masuk ke paru-paru dengan memintas jalan nafas bagian atas (adams, 1997). Trakeostomi merupakan tindakan operatif yang memiliki tujuan membuat jalan nafas baru pada trakea dengan membuat sayatan atau insisi pada cincin trakea ke 2, 3, 4.
Trakeostomi merupakan suatu prosedur operasi yang bertujuan untuk membuat suatu jalan nafas didalam trakea servikal. Perbedaan kata – kata yang dipergunakan dalam membedakan “ostomy” dan “otomy” tidak begitu jelas dalam masalah ini, sebab lubang yang diciptakan cukup bervariasi dalam ketetapan permanen atau tidaknya. Apabila kanula telah ditempatkan, bukaan hasil pembedahan yang tidak dijahit dapat sembuh dalam waktu satu minggu. Jika dilakukan dekanulasi (misalnya kanula trakeostomi dilepaskan), lubang akan menutup dalam waktu yang kurang lebih sama. Sudut luka dari trakea yang dibuka dapat dijahit pada kulit dengan beberapa jahitan yang dapat diabsorbsi demi memfasilitasi kanulasi dan, jika diperlukan, pada rekanulasi; alternatifnya stoma yang permanen dapat dibuat dengan jahitan melingkar (circumferential). Kata trakeostomi dipergunakan, dengan kesepakatan, untuk semua jenis prosedur pembedahan ini. Perkataan tersebut dianggap sebagai sinonim  dari trakeotomi.
2.3. Fungsi trakeostomi
Fungsi dari trakheostomi antara lain:
a.    Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan yang selanjutnya mengurangi kekuatan yang diperlukan untuk memindahkan udara sehingga mengakibatkan peningkatan regangan total dan ventilasi alveolus yang lebih efektif. Asal lubang trakheostomi cukup besar (paling sedikit pipa 7)
b.    Proteksi terhadap aspirasi
c.    Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan
d.    Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan
e.    Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus respiratorius
f.    Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang norma.
2.4. Indikasi dan Kontraindikasi
2.4.1. Indikasi dari trakeostomi antara lain:
a.    Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
b.    Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
c.    Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
d.    Apabila terdapat benda asing di subglotis
e.    Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa
f.    Obstruksi laring
1.    karena radang akut, misalnya pada laryngitis akut, laryngitis difterika, laryngitis membranosa, laringo-trakheobronkhitis akut, dan abses laring
2.    karena radang kronis, misalnya perikondritis, neoplasma jinak dan ganas, trauma laring, benda asing, spasme pita suara, dan paralise Nerus Rekurens
3.    Sumbatan saluran napas atas karena kelainan kongenital, traumaeksterna dan interna, infeksi, tumor.
4.    Cedera parah pada wajah dan leher
5.    Setelah pembedahan wajah dan leher
g.    Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi
h.    Penimbunan sekret di saluran pernafasan. Terjadi pada tetanus, trauma kapitis berat, Cerebro Vascular Disease (CVD), keracunan obat, serta selama dan sesudah operasi laring
2.4.2.  Kontraindikasi dari trakeotomi
Infeksi pada tempat pemasangan, dan gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol, seperti hemofili.


2.5. Klasifikasi
2.5.1. Menurut letak insisinya, trakeostomi dibedakan menjadi
1.    Trakeostomi elektif             : Insisi horisontal
2.    Trakeostomi emergensi       : Insisi vertikal 
2.5.2. Menurut waktu dilakukannya tindakan, trakeostomi dibedakan menjadi
1.    trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang
2.    trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik
2.5.3. Menurut lamanya pemasangan, trakheostomi dibagi menjadi
1.    Tracheal stoma post laryngectomy: merupakan tracheostomy permanen. Tracheal cartilage diarahkan kepermukaan kulit, dilekatkan pada leher. Rigiditas cartilage mempertahankan stoma tetap terbuka sehingga tidak diperlukan tracheostomy tube (canule).
2.    Tracheal stoma without laryngectomy: merupakan tracheostomy temporer. Trachea dan jalan nafas bagian atas masih intak tetapi terdapat obstruksi. Digunakan tracheostomy tube (canule) terbuat dari metal atau Non metal (terutama pada penderita yang sedang mendapat radiasi dan selama pelaksanaan MRI Scanning)

2.6. Penatalaksanaan
2.6.1. Jenis Tindakan Trakeostomi
a.    Surgical trakeostomy
Tipe ini dapat sementara dan permanen dan dilakukan di dalam ruang operasi. Insisi dibuat diantara cincin trakea kedua dan ketiga sepanjang 4-5 cm.
b.    Percutaneous Tracheostomy
Tipe ini hanya bersifat sementara dan dilakukan pada unit gawat darurat. Dilakukan pembuatan lubang diantara cincin trakea satu dan dua atau dua dan tiga. Karena lubang yang dibuat lebih  kecil, maka penyembuhan lukanya akan lebih cepat dan tidak meninggalkan scar. Selain itu, kejadian timbulnya infeksi juga jauh lebih kecil.
c.    Mini tracheostomy
Dilakukan insisi pada pertengahan membran krikotiroid dan trakeostomi mini ini dimasukan menggunakan kawat dan dilator.

2.6.2   Jenis Pipa Trakeostomi
a.    Cuffed Tubes
Selang dilengkapi dengan balon yang dapat diatur sehingga memperkecil risiko timbulnya aspirasi.
b.    Uncuffed Tubes
Digunakan pada tindakan trakeostomi dengan penderita yang tidak mempunyai risiko aspirasi.
c.    Trakeostomi dua cabang (dengan kanul dalam)
Dua bagian trakeostomi ini dapat dikembangkan dan dikempiskan sehingga kanul dalam dapat dibersihkan dan diganti untuk mencegah terjadi obstruksi
d.    Silver Negus Tubes
Terdiri dua bagian pipa yang digunakan untuk trakeostomi jangka panjang.
Tidak perlu terlalu sering dibersihkan dan penderita dapat merawat sendiri.
e.    Fenestrated Tubes
Trakeostomi ini mempunyai bagian yang terbuka di sebelah posteriornya, sehingga penderita masih tetap merasa bernafas melewati hidungnya. Selain itu, bagian terbuka ini memungkinkan penderita untuk dapat berbicara.

2.6.3.  Alat-Alat Trakeostomi
Alat yang diperlukan untuk melakukan trakeostomi adalah semprit yang berisi obat analgesia, pisau, pinset anatomi, gunting panjang tumpul, sepasang pengait tumpul, klem arteri, gunting kecil yang tajam serta kanul trakea dengan ukuran sesuai.

2.6.4   Teknik Trakeostomi
Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atalantooksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak di garis median dekat permukaan leher. Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kain steril. Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa suprasternal secara infiltrasi. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit, dibuat kira-kira lima sentimeter.
Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan ini dan jaringan di bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh darah yang tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem ini dilepaskan ismuth tiroid diikat keda tepinya dan disisihkan ke lateral. Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi ditutup dengan kasa.
Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit.

2.7. Komplikasi pemasangan trakeostomi
2.7.1 Waktu tindakan operasi
a)    Perdarahan           
b)    Cardiac arrest
c)    Perforasi                
d)    Emboli udara
e)    Ruptur pleura servikalis
f)    Apneu
g)    Sumbatan darah / sekret
2.7.2. Setelah operasi
a)    Infeksi
b)    Perdarahan
c)    Sumbatan kanul
d)    Pergeseran stenosis   
e)    Pembentukan jar. granulasi
f)    Aspirasi, atelektasis
g)    Pneumotoraks
h)    Pipa trakeostomi tercabut
i)    Emfisema subkutis
2.7.3. Komplikasi Jangka panjang
a)    Obstruksi jalan nafas atas
b)    Infeksi
c)    Fistula trakeoesofagus
d)    Stenosis trakea
e)    Iskemia atau nekrosis trakea .


















2.8. Pathway Trakeostomi



   

















2.9. Asuhan keperawatan pada pasien yang terpasang trakeostomi
2.9.1.   Pengkajian Kasus
Tuan A umur 46 tahun sehari hari bekerja sebagai buruh pabrik, Tuan A menderita penyakit Ca. Nasofaring Karena penyakitnya Tuan A terpasang Trakeostomi setelah dilakukan pemasangan Alat Trakeostomi Tuan A nampak sesak nafas, gelisah dan menarik diri dan ditemukan daerah insisi tidak bersih.
a. Identitas pasien  meliputi :
Nama : Tn. A
Alamat : Jln. Merpati Surabaya
Ttl : Lamongan 19 agustus 1965
Usia : 46 Tahun
Pekerjaan : Buruh Pabrik
Diagnosa medis : Ca. Nasofaring
b. Riwayat Kesehatan
1.  Keluhan utama
Pasien mengatakan sesak nafas.
2.    Riwayat kesehatan Sekarang
Pasien merasakan sesak nafas dan gelisah, pasien juga merasa malu menemui orang lain karena tidak bisa berbicara dengan normal.
3. Riwayat kesehatan dahulu : -
4. Riwayat kesehatan keluarga : keluarga pasien ada yang menderita penyakit seperti pasien.
5. Riwayat Sosial : Merokok ,minum- minuman keras



c.  Pemeriksaan Fisik  ROS
    B1 (Breath) : Kesulitan bernafas, batuk, RR meningkat (takipneu), Adanya penarikan otot bantu pernafasan.
    B2 (Blood ) :  Nadi meningkat (takikardi), frekuensi tidak teratur, TD tinggi (hipertensi).
    B3 (Braind ) : Dizzines, cemas.
    B4 (Bladeer) : -
    B5 (Bowel)  :  Nafsu makan menurun , porsi makan tidak habis ,BB turun, pasien lemah.
    B6 (Bone)  : Malaise
d.    Pemeriksaan Penunjang
1.    Pemeriksaan fungsi paru
Menentukan kemampuan paru untuk pertukaran gas karbondioksida.
2.    Analisa gas darah arteri
Mengkaji status oksigenasi dan ventilasi dan keseimbangan asam basa.
3.    Kapasitas vital paru
Menurun pada keterbatasan dada atau kondisi paru ; normal atau meningkat pada PPOM ; normal atau menurun pada penyakit neuromuscular (Guillain-Barre) ; menurun pada kondisi keterbatasan gerak torax (kifoskoliosis)
4.    Kapasitas vital kuat
Diukur dengan spirometri menurun pada kondisi restriktif.
5.    Volume tidal
Dapat menurun pada proses restriktif atau obstruktif
6.    Inspirasi negative kuat
Dapat mempengaruhi kapasitas vital untuk membantu menentukan apakah pasien dapat bernafas
7.    Ventilasi semenit
Mengukur volume untuk inhalasi dalam 1 menit pernafasan normal.
8.    Tekanan inspirasi
Mengukur regangan otot pernafasan
9.    Volume ekspirasi kuat
Biasanya menurun pada PPOM
10.    Aliran-volume
Tidak normal menunjukkan penyakit jalan nafas besar dan kecil dan penyakit keterbatasan bila berlanjut
11.    Sinar X dada
Mengawasi perbaikan/kemajuan kondisi atau komplikasi.


2.9.2. Analisa Data
No     Data     Etiologi     Masalah
1    Ds : -
Do :  RR > 20x/mnt, terdengar Suara nafas tambahan (ronchi dan wezzing), wajah nampak pucat. Akral dingin.    Akumulasi sekret pada jalan nafas yang menjadi tempat  insisi trakeostomi.    Bersihan jalan nafas tidak efektif
2    Ds : -
Do : pasien terpasang trakeostomi    Insisi pembedahan yang tidak bersih    Resiko Infeksi
3    Ds    :   -
Do : - Pasien tidak dapat mengeluarkan suaranya saat mencoba berbicara.
-    Suara pasien tidak terdengar hanya terdengar suara hembusan.
-    Pasien berkomunikasi dengan isyarat.    Pembutan saluran baru pernafasan (trakeostomi)    Gangguan komunikasi verbal






2.9.3. Diagnosa
1.    Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. akumulasi sekret pada jalan nafas yang menjadi tempat insisi trakeostomi.
2.    Resiko Infeksi b.d. Tindakan invasif sekunder dengan pemasangan trakeostomi
3.    Gangguan komunikasi verbal b.d. terpasangnya trakeostomi.



2.9.4. Rencana Keperawatan
Dx 1 : bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. akumulasi sekret pada jalan nafas yang menjadi tempat insisi trakeostomi.
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x 24 jam jalan nafas kembali bersih dan tidak ada serkret . Dengan KH :
-    TTV Normal (TD : 110/ 70 -120/90 mmHg, RR: 16 – 20x/menit, Nadi : 60 -100x/mnt, Suhu : 36,50-37,50C )
-    Tidak ada bunyi nafas tambahan (Ronchi, dan Wheezing)
-    Tidak ada sianosis
Intervensi    Rasional
1.    Membersihkan trakheostomy tube klien sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan jumlah akumulasi secret
2.    Melakukan fisioterapi nafas jika tidak ada kontraindikasi.

3.    Observasi TTV

4.    Mengauskultasi paru setiap 4 jam.


5.    Menganjurkan klien untuk tarik nafas dalam dan batuk.
6.    Melakukan nebulizing


7.    Melakukan suctioning bila perlu     1.    Dengan membersihkan trakheostomy, menghindari terjadinya penumpukan sekret dan agar jalan nafas bersih.
2.    Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan tarik nafas dalam dan batuk tanpa suctioning

3.    Untuk mengetahui keadaan umum pasien.
4.    Jika ditemukan crackles dan wheezing dapat mengintrepretasikan adanya sekret pada jalan nafas
5.    Untuk membantu pasien mengeluarkan sekret dengan batuk.
6.    Nebulizer membantu untuk mengencerkan secret sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan

7.    Suctioning membersihkan jalan nafas dari sekret




Dx 2 : Resiko Infeksi b.d. Tindakan invasif sekunder dengan pemasangan trakeostomi
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 1x24 jam  diharapkan infeksi tidak terjadi. dengan KH :
-    Tidak ada  infeksi
-    TTV (TD : 110/ 70 -120/90 mmHg, RR: 16 – 20x/menit, Nadi : 60 -100x/mnt, Suhu : 36,50-37,50C)
-    Nilai leukosit normal 4.000-11.000 ┬Áml
-    Daerah insisi bersih dan tidak lembab

Intevensi    Rasional
1.    Cuci tangan sebelum melakukan prosedur pembersihan trakeos tomi.
2.    Monitor dan laporkan adanya tanda-tanda infeksi (rubor, dolor, kalor, tumor, fungsiolensa) dan peningkatan sel darah putih.
3.     Jaga pemaparan trakeostomy terhadap benda asing.
4.    Gunakan teknik steril dalam melakukan perawatan trakheostomi dan suctioning.
5.    Observasi TTV    1.    Mengidentifikasi adanya infeksi dan memperkecil komplikasi
2.    Dengan tangan yang bersih saat melakukan prosedur, memperkecil kemungkinan terjadinya infeksi.
3.    Pemaparan terlalu sering pada trakheostomy mengakibatkan infeksi.
4.    Agar mikroorganisme tidak dapat masuk ke jalan nafas.

5.    Untuk mengetahui keadaan umum pasien apabila adanya peningkatan suhu  menunjukkan adanya tanda-tanda infeksi




Dx 3 : Gangguan komunikasi verbal b.d. terpasangnya trakeostomi
Tujuan : Setelah dilakukan proses keperawatan selama 5 x 24 jam klien mampu berkomunikasi secara verbal dengan KH :
-    Interaksi sosial  pasien  berkembang
-    Pasien berkomunikasi tidak menggunakan isyarat.

Intervensi    Rasional
1.    Beri kesempatan klien untuk berkomunikasi.

2.    Amati gerak non verbal klien.

3.    Sediakan kertas dan bolpoin jika pasien lemah tidak mampu berbicara banyak.
4.    Anjurkan pada pasien yang terpasang trakheostomi  tentang cara menutup lubang trakheostomi dengan jari yang bersih atau tutup yang khusus jika ingin berbicara.    1.    Memberikan klien untuk mengungkapkan apa yang klien butuhkan.
2.    Gerakan non verbal menginteprestasikan perasaan klien.
3.    Pasien bisa berkomunikasi dengan menulis dikertas jika lemah.

4.    Menutup jalur masuknya udara melalui trakheostomi maka pasien dapat berbicara.








BAB III
PENUTUP
3.3.    Kesimpulan
Trakeostomi adalah tindakan membuat stoma atau lubang agar udara dapat masuk ke paru-paru dengan memintas jalan nafas bagian atas (adams, 1997). Trakeostomi merupakan tindakan operatif yang memiliki tujuan membuat jalan nafas baru pada trakea dengan membuat sayatan atau insisi pada cincin trakea ke 2, 3, 4.
Fungsi dari trakheostomi antara lain:
a.    Mengurangi tahanan aliran udara pernafasan 
b.    Proteksi terhadap aspirasi
c.    Memungkinkan pasien menelan tanpa reflek apnea, yang sangat penting pada pasien dengan gangguan pernafasan
d.    Memungkinkan jalan masuk langsung ke trachea untuk pembersihan
e.    Memungkinkan pemberian obat-obatan dan humidifikasi ke traktus respiratorius
f.    Mengurangi kekuatan batuk sehingga mencegah pemindahan secret ke perifer oleh tekanan negative intra toraks yang tinggi pada fase inspirasi batuk yang norma.
Indikasi dari trakeostomi antara lain:
a.    Terjadinya obstruksi jalan nafas atas
b.    Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma.
c.    Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator).
d.    Apabila terdapat benda asing di subglotis
e.    Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa

f.    Obstruksi laring
1.    karena radang akut, misalnya pada laryngitis akut, laryngitis difterika, laryngitis membranosa, laringo-trakheobronkhitis akut, dan abses laring
2.    karena radang kronis, misalnya perikondritis, neoplasma jinak dan ganas, trauma laring, benda asing, spasme pita suara, dan paralise Nerus Rekurens
3.    Sumbatan saluran napas atas karena kelainan kongenital, traumaeksterna dan interna, infeksi, tumor.
4.    Cedera parah pada wajah dan leher
5.    Setelah pembedahan wajah dan leher
g.    Hilangnya refleks laring dan ketidakmampuan untuk menelan sehingga mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi
h.    Penimbunan sekret di saluran pernafasan. Terjadi pada tetanus, trauma kapitis berat, Cerebro Vascular Disease (CVD), keracunan obat, serta selama dan sesudah operasi laring
Kontraindikasi dari trakeotomi
Infeksi pada tempat pemasangan, dan gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol, seperti hemofili.
Untuk askep pada pasien yang terpasang trakeostomi dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi serta memenuhi kebutuhan pasien yang terpasang trakeostomi yang tidak bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

3.4.    Saran
3.4.1.    Bagi Mahasiswa
Meningkatkan kualitas belajar dan memperbanyak literatur dalam pembuatan makalah agar dapat membuat makalah yang baik dan benar.


3.4.2.    Bagi Pendidikan
Bagi dosen pembimbing agar dapat memberikan bimbingan yang lebih baik dalam pembuatan makalah selanjutnya.
3.4.3.    Bagi Kesehatan
Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa keperawatan agar mengetahui bagaimana Asuhan keperawatan pada pasien yang terpasang trakheostomi.























DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Sudarth, 2002. “Keperawatan medikal bedah” edisi 8,volume 1, Jakarta : EGC
Carpelito, Lynda jual, 2002 “Diagnosis Keperawatan“ edisi 9. EGC
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta : EGC.
Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 2. Edisi III. 2000.Medica Aesculaplus FK UI.
Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. 2001. EGC.

1 komentar:

  1. MO NANYA MIN,, KENAPA PADA PASIEN TRAKEOSTOMI TIDAK BISA DI BERIKAN TERAPI NEBULIZER,,?

    DAN TINDAKAN APA YANG HARUS DI LAKUKAN,, ?

    BalasHapus